Touching Moment

Saat-saat mengharukan dalam acara "Panggung Kenangan" perpisahan PKL UIN MALIKI Malang di MTs Negeri Kanigoro Kab. Kediri.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Touching Moment

Saat-saat mengharukan dalam acara "Panggung Kenangan" perpisahan PKL UIN MALIKI Malang di MTs Negeri Kanigoro Kab. Kediri.

Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2015

Ajaran dari Al-Muhajir dan Al-Faqih Muqaddam


Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, beliau berhijrah dari Bashrah ke Hadramaut seraya berderma, tidak menengadahkan tangan meminta-minta pada siapapun. Beliau berhijrah dan memberikan keteladanan tentang pengorbanan berbagi terhadap sesama, ikhlas dan kesungguhan terhadap Allah. Beliau membimbing para pengikutnya di negeri itu seperti halnya beliau membimbing keturunannya dengan nilai kebajikan dan ketaqwaan. Dari negeri Bashrar yang subur, ia menjelajah berbagai negeri dan mengarungi belantara hingga sampailah beliau ke lembah yang penuh keberkahan dimana beliau bersuka cita untuk menetap disana bersama keluarga dan keturunannya. Membimbing mereka dengan nilai-nilai kebajikan dan ketaqwaan kepada Allah. juga disertai dengan akhlaq mulia para leluhur agung yang melahirkan generasi penerus yang mulia pula. merekalah pewaris, pengikut setia dan keturunan Nabi Muhammad, meskipun diingkari oleh orang yang buta mata batinnya.

Senin, 04 Mei 2015

Qosidah Qoro'na Fi Dhuha


هذه القصيدة قرأنا فی الضحی

قرأنا فى الضحی ولسوف يعطيك
فسر قلوبنا ذاك العطاء
Qoro,nâ fîdl-dluhâ wa lasaufa yu’thîk fasarro qulûbanâ dzâkal ‘athô,u
Telah kami baca di dalam Surah Dhuha “Dan kelak kamu akan diberi karunia” Maka gembira hati kami atas kurniaan itu

و أحسن منك لم تر قط عيني
و أجمل منك لم تلد النساء
Wa ahsanu minka lam taro qoththu ‘ainî wa ajmalu minka lam talidin-nisâ-u
Dan yang lebih baik darimu belum pernah telihat oleh mata. Dan yang lebih indah darimu belum pernah dilahirkan para wanita

حشاك يارسول الله ترضی
وفينا من يعذب أو يساء
Hasyâka yâ Rosûlallâhi tardlô wa fînâ man yu’adzdzabu au yusâ-u
Tidak sesekali wahai Rasulullah akan kau ridho Sedangkan diantara kami ada yang diazab dan diperlakukan keburukan keatasnya

خلقت مبرأ من کل عيب
گأنك قد خلقت گما تشاء
Khuliqta mubarro-an min kulli ‘aibin ka-annaka qod khuliqta kamâ tasyâ-u
Engkau diciptakan bebas dari segala aib Seakan-akan engkau dicipta seperti yang mana yang kau inginkan dirimu diciptakan


نبي هاشمي أبطحي
شمائله السماحة والوفاء
Nabiyyun Hâsyimiyun abthohiyun syamâ-iluhus-samâhatu wal wafâ-u
Nabi dari Bani Hasyim dari Abtah (sebuah tempat di Mekkah) Keperibadiannya lemah lembut dan penuh kasih dan sayang

Qasidah Yaa Robbi Ya 'Alimal Hal




يَا رَبِّ عَالِمَ الْحَـالْ

Wahai Allah yang mengetahui hal hamba



إِلَيْكَ وَجَّهْتُ اْلآمـَالْ

Kepada-Mu aku hadapkan segala cita-cita



فَامْنُنْ عَلَيْناَ بِاْلإقْبـَالْ

Kurniakanlah kami nikmat perkenan dari-Mu



وَكُنْ لَناَ وَاصْلِحِ الْبـَالْ

Serta belas kasihan dan tenteramkan hati kami



يَارَبِّ يَا خَيـْرَ كـَافِي

Wahai Allah yang Maha mencukupi



اُحْلُـلْ عَلَيْنـَا الْعَـوَافِي

Berilah kami sihat afiat



فَلَيْسَ شَيْء ثَمَّ خـَافِي

Kerana tiada yang sulit atas-Mu



عَلَيْكَ تَفْصِيْلُ وَاجْمـَالْ

Segala sesuatu dalam pengetahuan-Mu


وَقَـْد أَتـَاكَ بِعُـذْرِه

Ia telah datang pada-Mu dengan dosa



وَبِانْكِسـَارِهِ وَفَقْـرِه

Dan kesedihan dan kefakirannya



فَاهْزِمْ بِيُسْـرِكَ عُسْـره

Angkatlah dengan kemudahan-Mu segala kesusahannya


بِمَحْضِ جُوْدِكَ وَاْلإِفْضَالْ

Dengan Berkat kemurahan dan kurnia-Mu


وَامْـنُنْ عَلَيـْهِ بِتَوْبـَةْ

Kurniakanlah padanya taubat



تَغْسِلْهُ مِنْ كُلِّ حَوْبـَةْ

Yang dapat menghapus segala dosa


وَاعْصِمْهُ مِنْ شَرِّ أَوْبـَةْ

Jagalah ia dari segala bahaya



لِكُلِّ مَا عَنْهُ قَدْ حـَالْ

Dari segala yang akan menimpa padanya



فَأَنْتَ مَـوْلَى الْمَـوَالِي

Engkau adalah Tuhan seluruh hamba



الْمُنْـفَرِدُ بِـالْكَمـَالِ

Yang Esa dalam kesempurnaanMu



وَبِـالْعُـلَى وَالتَّعـَالِي

Dalam ketinggian dan keagunganMu


عَلَوْتَ عَنْ ضَرْبِ الأَمْثَالْ

Maha suci Allah dari semua keserupaan



جُوْدُكَ وَفَضْلُكَ وَبِـرُّكَ

Kemurahan, kurnia, dan kebaikan-Mu



يُرْجَى وَبَطْشُكَ وَقَهْـرُكَ

Sungguh sangat di harapkan. Murka dan marah-Mu


يُخْشَى وَذِكْرُكَ وَشُكْـرُكَ

Sungguh sangat di takutkan. Berdzikir dan bersyukur pada-Mu


لاَزِمْ وَحَمْدُكَ وَاْلإِجْـلاَلْ

Adalah lazim, demikian pula memuji dan mengagungkan-Mu



وَصَـلِّ فِي كُلِّ حَالَـةْ

Selawat pada setiap masa



عَلَى مُزِيْـلِ الضَّلاَلـَةْ

Di atas nabi penghapus kesesatan



مَـنْ كَلَّمَتْـهُ الْغَزَالـَةْ

Kepadanya rusa bercakap



مُحَمَّدِ الْهـَادِي الـدَّالْ

Iaitu Muhammad penunjuk jalan



وَالْحَمْـدُ لِلّـه شُكْـرًا

Segala puji bagi Allah sebagai tanda syukur



عَلَى نِعَمٍ مِنْـهُ تَتْـرَى

Atas nikmatNya yang tidak putus



نَحْمَـدُهُ سِـرًّا وَجَهْـرًا

Kami memuji padaNya dengan rahsia dan terang



وَبِـالْغَـدَايَـا وَاْلآصـَالْ

Siang malam setiap waktu

Sabtu, 02 Mei 2015

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy


Hafal Ribuan Hadits
Di Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggian ilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.

Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”

Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.

Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.

Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.

Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.

Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.

Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.

Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.

diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes Darul Hadits Malang, Jawa Timur (https://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/al-habib-abdul-qadir-bin-ahmad-bilfagih-al-alawy/)

Habib Idrus bin Salim Al-Jufrie


 “Apa arti merdeka jika kita tidak bisa mendidik diri sendiri.” 

Sepenggal kalimat itu meluncur dari mulut Habib Idrus bin Salim Aljufri ketika Indonesia masih seumur jagung setelah mengikrarkan kemerdekaan pada 1945.

Apa yang disampaikan Habib Idrus itu sejatinya merupakan cambuk bagi semua anak negeri ini untuk membekali diri dengan ilmu. 

Sepanjang hidupnya, ulama yang akrab disapa Guru Tua ini memang dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu. Tak hanya untuk diri sendiri, ilmu itu juga ia tularkan kepada orang lain.

Salah satu wujud cintanya pada ilmu adalah didirikannya lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Inilah sumbangsih nyata Guru Tua kepada negeri ini. Alkhairaat ia dirikan di Palu, Sulawesi Tengah, kala usianya menginjak 41 tahun. 

Dan, ketika ia wafat pada usia 77 tahun, lembaga pendidikan Alkhairaat telah menyebar di kawasan timur Indonesia. Kala Guru Tua menutup mata, Alkhairaat sudah memiliki 425 madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi.

Dari hari ke hari, warisan pendidikan dari Habib Idrus terus meluas. Kini, Alkhairaat telah menyebar ke 11 provinsi di kawasan timur Indonesia. Dari sebaran itu, tercatat ada sekitar 2.000 madrasah dan sekolah Alkhairaat yang kini eksis.

“Antara Habib Idrus dan Alkhairaat ibarat sekeping mata uang yang permukaannya berbeda, tapi memiliki nilai yang sama,” kata salah satu cucunya, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Aljufri, dalam pidato haul ke-44 Habib Idrus di Palu, beberapa waktu lalu.

Lahir di Hadramaut

Meski mengabdi di Indonesia, Habib Idrus tidak lahir di negeri ini. Ia lahir pada 14 Sya’ban 1309 Hijriah atau 1889 M di Kota Taris, Provinsi Hadramaut, Yaman Selatan.

Meski lahir di “seberang”, tetapi di dalam darahnya masih mengalir garis keturunan Indonesia. Ibunya, Syarifah Nur, masih memiliki ikatan famili dengan Aru Matoa, raja di Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan. Artinya, Habib Idrus tetaplah seorang Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Kamis, 10 Januari 2013, 09:53 WIB

Rabu, 29 April 2015

Ukhuwah Islamiyah



Muqadimah

          Ukhuwah merupakan anugrah Allah yang tiada terhingga yang Allah limpahkan hanya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya saja. Ukhuwah juga merupakan kenikmatan yang tidak dapat diukur oleh materi apapun yang ada di dunia ini. Bahkan kendatipun seluruh manusia sepakat untuk mengumpulkan semua kekayaan mereka, namun itu semua tidak dapat digunakan untuk membeli ‘ukhuwah’. Karena ukhuwah tumbuh dan lahir dari cahaya keimanan yang membara dalam sanubari seorang hamba. Allah SWT mengatakan dalam Al-Qur’an (QS. 8 : 63) :
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ*
“Dan (Allahlah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).  Walaupun kamu  membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Itulah ukhuwah Islamiyah, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dan banyak pula diamalkan oleh generasi berikutnya hingga pada masa kita sekarang ini. Walaupun seolah dengan berlalunya zaman, berlalu pula ruh ukhuwah dari dalam jiwa kaum muslimin. Bahkan jika kita perhatikan kondisi kontemporer kaum muslimin, kita mendapatkan terjadinya perpecahan yang tiada berkesudahan. Padahal, perpecahan merupakan sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam. Allah SWT berfirman (QS. 3 : 103) :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا، وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا…*
“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (Al-Islam) dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah oleh kalian akan nikmat Allah yang diberikan pada kalian, ketika dahulu kalian saling bermusuhan lalu Allah satukan diantara hati kalian. Dan jadilah kalian atas kenikmatan Allah tersebut menjadi bersaudara…”

Mereka menjalin persaudaraan yang demikian eratnya, bahkan lebih erat dari persaudaraan yang terlahir karena adanya garis nasab. Oleh karena itulah, Allah menggambarkan hal ini sebagai suatu kenikmatan yang tidak dapat diukur dengan ukuran materiil, sebesar apapun materi tersebut.

Makna Ukhuwah
          Dari segi bahasa, ukhuwah merupakan bentuk mashdar (baca; infinitif) dari kata ‘Akha’ yang berarti bersaudara. Sedangkan ukhuwah berarti persaudaraan. Adapun dari segi istilahnya, para ulama memiliki definisi yang beragam. Diantaranya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Abdullah Nasih Ulwan : (1997 : 5)
الأخوة هي قوة إيمانية تورث الشعور العميق بالعاطفة، والمحبة، والإحترام، والثقة المتبادلة..
مع كل من يربطه وإياه أواصر العقيدة الإسلامية ووشائح الإيمان والتقوى..
Ukhuwah merupakan kekuatan iman yang melahirkan perasaan kasih sayang yang mendalam, cinta, penghormatan dan rasa saling tisqah (baca; salinng percaya), terhadap seluruh insan yang memiliki ikatan aqidah Islamiyah yang sama dan juga yang memiliki cahaya keimanan dan ketaqwaan..
 
Jadi, ukhuwah merupakan sesuatu yang terlahir dari keimanan yang mendalam, dan juga merupakan buah dari ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, ulama mengatakan, bahwa tidak ada iman tanpa ukhuwah, sebagaimana tidak ada ukhuwah tanpa adanya pondasi iman. Membenarkan hal tersebut, firman Allah SWT (QS. 49 : 10)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ*
“Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
  Adapun mengenai ukhuwah sebagai buah dari ketaqwaan, sekaligus menafikan tentang persahabatan tanpa adanya ketaqwaan (QS. 43 : 67) :
الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ*
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertakwa.”
  Dari sini kita juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa seorang yang beriman apabila tidak memiliki rasa ukhuwah terhadap sesama muslim lainnya, hal ini menunjukkan bahwa imannya belum sempurna. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري)
Dari Qatadah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’ (HR. Bukhari)
 

  Keutamaan Ukhuwah

          Di luar keutamaan yang terkandung dalam ukhuwah, sesungguhnya sebelum segala-galanya, ukhuwah merupakan perintah Allah SWT. Perhatikan firman Allah berikut (QS. 3 : 103)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ*
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Ayat di atas melarang kita untuk bercerai berai. Sedangkan bercerai berai merupakan lawan dari persatuan, yang menjadi salah satu komponen mendasar ukhuwah islamiyah. Namun demikian, disamping sebagai kewajiban, ukhuwah memiliki keutamaan yang cukup banyak, diantaranya adalah:
1.     Wajah orang yang berukhuwah akan bersinar.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عُمَرِ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ) (رواه أبو داود)
Dari Umar bin Khatab ra, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat sekelompok orang yang mereka ini bukan para nabi dan bukan pula orang yang mati syahid, namun posisi mereka di sisi Allah membuat para nabi dan orang yang mati syahid menjadi iri. Para sahabat bertanya, beritahukan kepada kami, siapakah mereka itu ya Rasulullah ?  Beliau menjawab, ‘mereka adalah sekelompok orang yang saling mencintai karena Allah SWT, meskipun diantara mereka tiada ikatan persaudaraan dan tiada pula kepentingan materi yang memotivasi mereka. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut manakala manusia takut, dan mereka tidak bersedih hati manakala manusia bersdih hati.’ Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat ‘Sesungguhnya wali-wali Allah itu, mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Abu Daud)

2.     Tidak takut dan tidak bersedih hati.
(sebagaimana di gambarkan dalam hadits di atas)

3.     Akan diampuni dosa-dosanya.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ سَلْمَانِ الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلَِ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ، وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )
Dari Salman al-Farisi ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang. Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)

4.     Mendapatkan ‘naungan’ Allah, di hari tiada naungan selain naungan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ
فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah berfirman pada hari kiamat. ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku.? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di hari tiada naungan selain naungan-Ku. (HR. Muslim)

5.     Mendapatkan cinta Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ  (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, bahwa seorang pemuda mengunjungi saudaranya di kota lain. Di tengah perjalanannya, Allah mengutuskan padanya seorang malaikat (yang menyamar). Ketika malaikat tiba padanya, berkata, ‘Wahai pemuda, engkau hendak kemana?’ Ia menjawab, ‘aku ingin bersilaturahim ke tempat saudaraku di kota ini.’ Malaikat bertanya lagi, ‘Apakah maksud kedatanganmu ada kepentingan duniawi yang ingin kau cari?’ Ia menjawab, ‘Tidak, selain hanya karena aku mencintainya karena Allah SWT.’ Kemudian malaikat berkata, ‘sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, diperintahkan untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu tersebut. (HR. Muslim)

6.     Dapat merasakan manisnya iman.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘ada tiga hal, yang apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan dapat merasakan manisnnya iman. (1) Lebih mencintai Allah dan rasul-Nya dari pada apapun selain keduanya. (2) Mencintai seseorang semata-mata hanya karena Allah SWT. (3) Tidak menyukai kembali pada kekafiran, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari)

 Syarat Dalam Berukhuwah
          Untuk melaksanakan kewajiban dalam berukhuwah dan juga untuk dapat menggapai seluruh keutamaan yang terkandung dalam ukhuwah, seroang muslim harus dapat merealisasikan syarat-syarat dalam berukhuwah. Diantara syarat-syaratnya adalah:
1.     Ikhlas.
Ukhuwah seorang muslim terhadap muslim lainnya, haruslah dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah SWT. Ukuhwah yang terlahir bukan karena sesuatu yang bersifat keduniaan, atau karena termotivasi oleh kepentingan tertentu. Karena apabila ukhuwah telah tercampur dengan ketidak ikhlasan, maka sudah menjadi hak Allah apabila tidak menerima ukhuwah yang seperti itu. Kisah yang terdapat dalam hadits, yang menceritakan seorang pemuda yang ingin mengunjungi ‘saudara seimannya’ (lihat hadits keutamaan ukhuwah no. 5 dalam makalah ini) menunjukkan bahwa ukhuwah itu harus ikhlas semata-mata cintanya hanya karena Allah. Dan ukhuwah seperti inilah yang akan membuahkan mendapatkan cinta dari Allah SWT.


2.     Dilandasi dengan iman dan ketaqwaan.
Karena hanya iman dan ketaqwaan sajalah, yang mampu menjadikan ukhuwah tetap bersih, sebagaimana yang diinginkan oleh Islam. Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an (QS. 43 : 67):
الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ*
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertakwa.”

3.     Komitmen dengan adab Islam.
Ukhuwah tidak akan pernah terajut, apabila kedua orang yang saling berukhuwah tidak mengimplementasikan adab dan perilaku islami. Dan hal seperti inilah, yang maknanya terkandung dalam salah satu sabda Rasulullah SAW :
…وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِيْ اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ …
…dan dua orang pemuda, yang saling mencintai karena Allah. Mereka bertemu karena Allah dan merekapun berpisah karena Allah SWT… (HR. Muslim)

4.     Berlandaskan pada prinsip saling menasehati kerena Allah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan bahwa:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المُؤْمِنُ مِرْآةَ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهَا عَيْبًا أَصْلَحَهُ
(رواه البخاري في الأدب المفرد)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang mu’min merupakan cermin bagi mu’min lainnya, yang apabila ia melihat pada aib pada diri saudaranya, ia memperbaikinya. (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

5.     Saling tolong menolong dalam kesenangan dan kesusahan.
Hal ini digambarkan Allah dalam Al-Qur’an (QS. 5 : 2)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ *
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

Tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan merupakan perintah Allah SWT, baik dalam kondisi suka maupun duka. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengungkapkan :
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)
Dari Nu’man bin Basyir ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Perumpamaan orang-orang mu’min dalam hal kecintaan dan kasih sayang diantara mereka adalah laksana satu tubuh, yang apabila terdapat salah satu anggota tubuhnya yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit, dengan tidak dapat tidur dan demam.’ (HR. Muslim)
 Cara untuk mempererat tali ukhuwah
          Terdapat beberapa cara untuk dapat menumbuhkan serta mempererat jalinan tali ukhuwah yang terajut diantara kaum muslimin. Diantara caranya adalah:

1.     Memberitahukan rasa ‘cinta’nya kepada saudaranya.
Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ وَقَدْ كَانَ أَدْرَكَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ (رواه أبو داود)
Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib, Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seorang mu’min mencintai saudaranya sesama mu’min, maka beritahukanlah bahwa ia mencintainya (karena Allah SWT) (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain, dikisahkan :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمْتَهُ قَالَ لاَ قَالَ أَعْلِمْهُ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ (رواه أبو داود)
Dari Anas bin Malik ra, bahwa seorang pemuda ada di samping Rasulullah SAW, kemudian tidak lama kemudian, lewatlah seseorang melalui mereka. Kemudian pemuda ini mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sungguh aku mencintai orang itu (karena Allah).’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya, ‘sudahkah engkau memberitahukan padanya?’  Ia menjawab, ‘belum.’ Rasulullah SAW mengatakan, kalau demikian beritahukalah padanya.’ Lalu pemuda ini mengikuti orang tersebut dan mengatakan padanya, ‘aku mencintaimu karena Allah.’ Orang tersebut menjawab, ‘Semoga Allah mencintaimu seperti engkau mencintaiku karena-Nya.’ (HR. Abu Daud)

2.     Mendoakan saudaranya
Dalam sebuah riwayat dikisahkan:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي وَقَالَ لاَ تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا  (رواه أبو داود)
Dari Umar bin Khattab ra, aku meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk pergi umrah. Kemudian Rasulullah SAW mengizinka aku dan berkata, ‘jangan lupa wahai saudaraku doanya. Beliau mengucapkan sebuah kalimat yang teramat membahagiakan, seakan aku memiliki dunia. (HR. Abu Daud)

3.     Memberikan senyuman.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (رواه مسلم)
Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘janganlah kalian menganggap remeh satu perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya memberikan senyuman (wajah yang ramah) kepada kepada saudaramu. (HR. Muslim)

4.     Menjabat tangan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW  mengatakan:
عَنْ سَلْمَانِ الْفَارِسِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا تَتَحَاتَّ الْوَرَقَةُ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ فِيْ يَوْمٍ رِيْحٍ عَاصِفٍ، وَإِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا وَلَوْ كَانَ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان )
Dari Salman al-Farisi ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seorang muslim, apabila ia bertemu dengan saudaranya muslim yang lainnya, kemudian ia menjabat tangannya, maka akan berguguranlah dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari sebuah pohon yang telah kering di hari angin bertiup sangat kencang. Atau kalau tidak, dosa keduanya akan diampuni, meskipun sebanyak buih di lautan. (HR. Imam Tabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir VI/ 256, dan Imam Baihaqi dalam syu’ab al-Iman VI/ 437)

5.     Bersilaturahim.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ (رواه أحمد)
Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah berfirman, ‘Cinta-Ku wajib diberikan kepada orang yang saling mencintai karena-Ku, kepada yang saling duduk karena-Ku, kepada yang saling mengunjungi (bersilaturahim) karena-Ku, dan yang saling berlomba untuk berkorban karena-Ku.” (HR. Ahmad bin Hambal)

6.     Mengucapkan selamat pada moment tertentu.
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بَمَا يُحِبُّ لِيَسَّرَهُ بِذَلِكَ سَرَّهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الطبراني في المعجم الصغير)
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang bertemu dengan saudaranya yang muslim dengan sesuatu yang menyenangkannya untuk membahagiakannya, maka sungguh Allah akan membahagiakannya pada hari kiamat. (HR. Tabrani dalam Mu’jam Shaghir, II/288)

7.     Memberikan hadiah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengemukakan:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهَادُوْا تَحَابَّوْا
Saling mencintai dan saling memberi hadiahlah kalian (HR. Baihaqi & Tabrani)

8.     Memberikan perhatian penuh pada kebutuhan saudaranya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia seorang mu’min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.
(HR. Muslim)

9.     Melaksanakan semua hak-hak ukhuwah.
Terdapat beberapa hal, yang menjadi hak seorang muslim dengan muslim lainnya dalam berukhuwah yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Hak-hak tersebut akan dibahas dalam pembahasan berikut:

 Hak-Hak Dalam Berukhuwah
          Dalam ukhuwah terdapat hak-hak yang mesti dilaksanakan oleh sesama muslim yang saling bersaudara karena Allah SWT. Diantara hak-hak tersebut adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Hak seorang muslim dengan muslim lainnya ada eman. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu wahai Rasulullah SAW? Beliau menjwab, ‘apabila engkau bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila ia mengundangmu penuhilah, apabila ia minta nasehat darimu nasehatilah, apabila ia bersin doakanlah, apabila ia sakit tengoklah, dan apabila ia meninggal dunia maka ikutilah jenazahnya.”  (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, dapat kita petik kesimpulan, bahwa diantara hak ukhuwah seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah:
1.     Mengucapkan salam.
2.     Memenuhi undangannya.
3.     Memberikan nasehat.
4.     Mendoakan ketika bersin.
5.     Menengok ketika sakit.
6.     Mengikuti jenazahnya ketika meninggal dunia.

Selain keenam hak ini, juga masih terdapat hak lainnya, yaitu sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melapangkan kesempitan dunia seorang mu’min, maka Alla akan melapangkan baginya kesempitan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang mempermudah kesulitan seseorang, maka Allah akan mempermudahnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi sela seorang muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selagi hamba-Nya tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Dari hadits ini dapat di ambil beberapa poin penting, bahwa hak seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah :
7.     Memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan dan kesusahannya.
Menutupi aib atau kekurangan yang dimilikinya


Buah Lain Dari Ukhuwah
          Selain berbagai keistimewaan yang telah digambarkan di atas, ukhuwah memilki nilai positif lain yang sangat luas, yaitu akan dapat mewujudkan al-wihdah al-islamiyah (baca; persatuan umat). Karena dengan adanya ukhuwah, setiap muslim tidak akan memandang seseorang dari sukunya, bahasanya, negaranya, warna kulitnya, warna rambutnya, organisasinya, partainya dan lain sebagainya. Namun ia akan melihat seseorang dari segi aqidahnya. Siapapun ia, jika ia mentauhidkan Allah, beragamakan Islam, bermanhajkan Al-Qur’an, berkiblatkan ka’bah, bersunahkan sunah Rasulullah SAW, maka ia adalah saudaranya. Sehingga ia akan memandang bahwa di setiap daerah, setiap wilayah atau bahkan di negara manapun yang di sana terdapat orang-orang yang memperjuangkan kalimatullah, maka itu adalah negrinya. Dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa menolong saudaranya di jalan Allah SWT. Atau paling tidak, harus memiliki kepedulian terhadap kebutuhan dan kesusahan yang dialami saudaranya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لاَ يَهْتَمْ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (رواه الطبراني)
Dari Hudzaifah bin Yaman ra, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka bukanlah ia termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Tabrani)
            Adapun pada zaman sekarang ini, berangkat dari ketiadaan ukhuwah, maka seolah tiada pula persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam. Hampir setiap organisasi, kelompok, partai berpecah belah satu dengan yang lainnya. Ini masih dalam satu negara, maka apatah lagi jika sudah berbeda negara, berbeda warna kulit dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan adanya konspirasi kaum barat yang berusaha untuk memecah belah kaum muslimin. Sehingga saat ini dapat dikatakan tidak ada satu negara muslim pun yang secara politiknya mencoba untuk merealisasikan ukhuwah dalam politik luar negrinya terhadap negara muslim lainnya. Padahal ukhuwah merupakan bagian terpenting dari keimanan. Karena tiada kesempurnaan iman tanpa adanya ukhuwah.    


Penutup
          Inilah sekelumit bahasan tentang ukhuwah, yang tentunya kita semua harus berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam skala individu, sosial, nasional, bahkan internasional. Karena kita akan lemah tanpa adanya ukhuwah, sebaliknya kita akan dapat kuat dan besar dengan merealisasikan ukhuwah dalam jiwa kita. Sementara, ukhuwah merupakan buah dan konsekwensi logis dari keimanan kepada Allah SWT. Dalam artian, bahwa ukhuwah mustahil direalisasikan tanpa memperdalam dan memperkokoh keimanan.           Jadi, jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim adalah memperkokoh keimanan dan mempertebal ketakwaan kepada Allah SWT. Karena hal tersebut merupakan ‘pondasi’ dari ukhuwah, untuk kemudian mencoba mengamalkan kiat-kiat Rasulullah SAW dalam mempertebal rasa ukhuwah dalam diri kita masing-masing. Dan akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang senantiasa dikuatkan keimanannya, dipererat ukhuwahnya dan dijadikan sebagai hamba-hamba yang berhak mendapatkan sorga dari-Nya. Amin..               

Wallahu A’lam Bis Shawab.

 
Bahan Bacaan
 
Hamid, Muhammad Abdul Halim. Sifat wa Sulukiyat Tarbawiyah. 1998 – 1419 H. Kairo – Mesir : Dar al-Tauzi’ wa al-Nasyr al-islamiyah.
Jarror, Husni Adham. Bercinta dan Bersaudara Karena Allah. 1993 – 1413 H. Cet. VIII. Jakarta – Indonesia : Gema Insani Press.
Ulwan, Abdullah Nasih. Al-Ukhuwah Al-Islamiyah. 1997 – 1417 H. Cet. VI. Kairo – Mesir : Dar Al-Salam li al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’.
Al-Wakil, Abdul Wahid. Buyutuna fi Ramadhan. 1997. Kairo – Mesir : Dar al-Tauzi wa al-Nasyr al-Islamiyah.
CD. ROM. Maushu’ah al-Hadits al-Syarif. Versi 2.00 : Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah (Global Islamic Software Company)
CD. ROM. Al-Qur’an Al-Karim. Versi 6.50 : Syirkah Sakhr Li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).